Veteran Asal Garut Ini Ingin Bangun Rumah Harapan

Veteran Asal Garut Ini Ingin Bangun Rumah Harapan

Veteran Asal Garut Ini Ingin Bangun Rumah Harapan

  • by Admin
  • 23 November 2018

UPDATE

Akhirnya, Rumah Impian Veteran Abah Lili Terwujud

 

Daarut Tauhiid (DT) Peduli Garut merealisasikan program bantuan pembangunan rumah layak huni melalui Program Sosial Kemanusiaan untuk Abah Lili. Abah Lili adalah seorang Veteran asal Kampung Kubang Jaya, RT 08/05 Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut.

Rumah impian yang selama ini dicita-citakan Abah Lili akhirnya terwujud. Kini, Abah dan keluarga bisa menempati hunian yang nyaman, hangat, tidak khawatir atap rumahnya bocor, dan kedinginan. Abah Lili juga tidak usah khawatir digusur karena tanah rumah sebelumnya berdiri di atas tanah milik pemerintah desa.

Rumah yang dibangun semi permanen itu menghabiskan dana hampir Rp. 70 juta dan dibangun sejak pertengahan Januari lalu. DT Peduli menjadi perantara para donatur yang menitipkan sebagian hartanya sebagai bentuk kepedulian terhadap Abah Lili yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Nanang Abdul Aziz, Kepala DT Peduli Garut mengatakan, Abah Lili sangat layak mendapatkan rumah impannya. Selain karena Abah Lili adalah pejuang kemerdekaan, Abah Lili juga sudah renta dan keluarganya hidup dalam serba kekurangan.

“Syukur yang tidak terhingga DT Peduli Unit Garut bisa menjadi perantara terwujudnya impian Abah Lili dan keluarga. Beliau adalah pejuang kemerdekaan 45 yang kiprahnya sangat patut dihargai. Kedua, karena  beliau sudah renta dan berasal dari keluarga tidak mampu yang memiliki banyak tanggungan”  kata Nanang.

Serah terima bantuan dilakukan oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) saat mengisi Tabligh Akbar di Masjid Agung Garut pada Sabtu (2/3). Secara simbolis, Aa Gym menyerahkan rumah tersebut kepada Abah Lili.

Aa Gym menuturkan, dana yang digunakan untuk membebaskan tanah dan membangun rumah Abah Lili merupakan dana titipan dari umat. Aa Gym juga mengajak jamaah untuk berdoa supaya rumah yang baru saja dibangun menjadi rumah yang berkah dan harta para donatur yang dititipkan menjadi jalan keberkahan untuk diri dan keluarga para donatur.  (nngdtp)

Abah Lili (88) begitu sapa akrab masyarakat menyapa bapak Lili Sutisna Veteran asal Desa Cipaganti Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Diusianya yang sudah senja, hampir menginjak satu abad, sekarang sudah tidak segagah dahulu saat menjadi pejuang tahun 45 membela Kemerdekaan Negara Indonesia melawan penjajahan Belanda. Kini jelas terlihat garis wajahnya sudah mulai terlihat keriput, kantung matanya yang semakin tebal, rambutnya semakin memutih dan tubuhnya yang kurus kering menandakan bahwa Sang Pejuang sudah sangat renta. Abah Lili sudah tidak punya cukup tenaga untuk kembali berjuang, bahkan untuk memperjuangkan hidup dan keluarganya.

Abah Lili hidup bersama istrinya Ibu Aah (75) yang tuna netra. Sudah lama istrinya tidak bisa melihat. Jangankan untuk memasak dan mengurus urusan rumah tangga lainnya, untuk dirinya sediri saja seperti makan, minum dan mandi Bu Aah harus dibantu suaminya. Bu Aah sudah tidak bisa melakukan rutinitas normal semenjak penglihatannya hilang. Untungnya masih ada anak semata wayang mereka Ibu Widianingsih (32) yang membantu mengurusi kebutuhan rumah tangga Abah Lili.

Tetapi nasib naas tak berhenti sampai disitu. Abah Lili masih harus menanggung perasaan sedih yang mendalam karena nasib anaknya pun tidak lebih baik dibandingkan dengan nasib dirinya. Menyandang status janda anak satu yang masih berumur 7 tahun, Ibu Widianingsih harus tegar menjalani kehidupan bahkan kini dalam keluarga Abah Lili dirinya lah yang menjadi andalan keluarga.

Sebagai mantan pejuang, kehidupan Abah Lili sangat jauh dari kata “layak”. Tinggal di rumah panggung tua berukuran 6x5 meter dengan 2 kamar yang berdiri diatas tanah Desa dengan kondisi yang sangat buruk. Dinding bilik bambu yang sudah mulai bolong-bolong bahkan tidak bisa melindungi tubuhnya yang renta itu dari hembusan dinginnya angin malam dan hujan, jendela rumah dengan kaca pecah serta kamar mandi tanpa pintu, sangat memprihatinkan. Abah Lili dan istrinya kerap kali terkena penyakit karena kondisi rumahnya itu.

“Bahkan jika terkena dingin kaki Abah Lili seketika berubah menjadi biru keunguan,” begitu pengakuan Abah Lili saat ditemui oleh Tim DT Peduli Garut pada Kamis (22/11).

Abah Lili kini membutuhkan rumah yang mampu melindungi diri dan keluarganya dari buruknya cuaca musim hujan. Hanya itu harapan kecil yang ada di benak Abah Lili. Saat ini karena ada sepetak tanah yang akan dijual seharga 20 juta, dengan harapan dapat dibangun rumah sederhana berukuran 6x5 meter kembali.

Kini kondisi rumahnya yang buruk serta berdiri diatas tanah yang labil semakin menambah beban pikiran Abah Lili. Bisa saja sewaktu-waktu rumahnya roboh terhempas angin kencang, hujan badai atau digusur karena tanah milik desa akan dipakai.

Hampir sirna harapan Abah Lili dengan realita kehidupan yang dia hadapi saat ini. Maka uluran tangan kita lah yang mampu mewujudkan harapan kecil Abah Lili.

Mari bantu Abah Lili Sang Pejuang Kemerdekaan untuk membangun rumah harapannya. Abah Lili membutuhkan dana minimal 50 juta untuk membeli tanah dan membangun rumah panggung sederhana secara gotong-royong bersama masyarakat.

 

 


Dukungan Sahabat Peduli



Program Peduli Lainnya

Google+
© 2019 Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid