BANTU IBU KARTINI MEMBANGUN ATAP KEHIDUPAN

BANTU IBU KARTINI MEMBANGUN ATAP KEHIDUPAN

BANTU IBU KARTINI MEMBANGUN ATAP KEHIDUPAN

  • by Admin
  • 19 June 2019

Jumat (26/7/2019) lalu, Tim DT Peduli berkunjung ke lokasi rumah Ibu Kartini, Alhamdulillah dengan Donasi yang terkumpul mulai dilakukan pembangunan pondasi dan rumah ibu kartini, namun belum sempurna. Berkat bantuan dari para donatur dan kerjasama dengan Komunitas Peduli Perubahan (KP2) pembangunan rumah layak huni terus berlangsung, semoga pembangunan ini bisa terus berlanjut dan berjalan lancar semestinya.

Berdasarkan informasi dari Komunitas Pecinta Perubahan (KP2), Donasi yang dibutuhkan sekitar Rp. 30.000.000 (Tiga Puluh Juta Rupiah), sedangkan donasi yang terkumpul selama sebulan ini masih Rp. 17.768.500 (Tujuh Belas Juta Tujuh Ratus Enam Puluh Delapan Ribu Lima Ratus Rupiah), dan masih membutuhkan donasi sekitar Rp. 12.231.500 (Dua Belas Juta Dua Ratus Tiga Puluh Satu Ribu Lima Ratus Rupiah) lagi agar rumah layak huni untuk Ibu Kartini bisa terwujud.

Maka, Kami masih menerima bantuan dari semua pihak untuk menyelesaikan pembangunan rumah ibu Kartini. Terimakasih untuk semua donatur yang telah menyisihkan sedikit rejekinya untuk pembangunan rumah ibu Kartini, Semoga Allah membalas semua kebaikan para donatur dengan balasan yang terbaik.

Mari kita bantu menyelesaikan pembangunan rumah ibu Kartini.

Semoga lebaran Idul Adha ini impian ibu Kartini untuk mendapatkan rumah layak huni bisa terwujud.

 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Salah satu warga Gampong Meunasah Teungoh, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie. Ibu Kartini, seorang janda hidup dengan 5 orang anak menempati rumah yang tidak layak untuk dihuni. Potret tersebut terlihat saat tim relawan turun survei setelah mendapat informasi dari kerabat yang pernah melintasi kawasan tersebut.
Kondisi rumah yang ditempati setidaknya enam orang itu sangat memprihatinkan. Tampak dari luar, sudah cukup membuat nafas terhela panjang. kayunya mulai lapuk, atapnya yang hanya berlapiskan plastik biru terpal bekas jemuran padi pemberian warga setempat yang sudah bocor di mana-mana akibat dibakar matahari saat kemarau. Mereka harus bertahan hidup di bawah gubuk yang sudah tua dan tidak layak huni lagi.


Kondisi di dalam rumah lebih parah lagi, selain sempit, atap rumah juga sudah nyaris roboh sebagian. Saat hujan, air masuk dari banyak celah. Entah bagaimana kalau ada angin besar, sewaktu-waktu bisa saja ambruk disapu badai. Yang lebih terenyuh hati, ibu kartini harus tidur bersama anak-anaknya di sepetak tanah yang telah di sekat dengan dapur dengan ukuran yang sangat sempit yang hanya menggunakan alas-alas butut yang tidak layak digunakan. Bahkan sepanjang mata, tak nampak MCK, akses air bersih, dan sanitasi.
“Angkeuh meunoe kamoe nyak, menyoe na saket-saket ek, kamoe krueh uruek, kadang-kadang kamoe pake WC terbang, sebab kamoe golom na WC, na tempat kamoe tinggai mantong ka alhamdulillah nyak”. Ungkap ibu kartini dalam Bahasa Aceh. Terjemahannya (“Beginilah kami nak, kalau hendak BAB, kami hanya bisa korek tanah atau pakai wc terbang, sebab disini belum ada toilet, ada tempat kami berteduh saja sudah alhamdulillah”). Ungkap ibu kartini kepada relawan saat ditemui 11 Juni 2019 lalu. Walaupun 4 Tahun sudah berlalu, Ibu Kartini tidak pernah putus asa dan masih menunggu sebuah harapan rumah dhuafa yang layak huni akan segera terwujud. Semoga saudara-saudara tergerak hatinya untuk membantu meringankan beban dari Ibu Kartini dan keluarga yang lebih bermartabat.

 


Dukungan Sahabat Peduli



Program Peduli Lainnya

Google+
© 2019 DT Peduli